KUPANG — Perjalanan menuju tahbisan imamat tidak pernah ditempuh sendiri. Di balik setiap panggilan, ada keluarga yang mendidik dalam iman, umat yang mendoakan, dan gembala yang hadir mengantar hingga ke gerbang pembinaan.
Hal itu ditunjukkan RD Longginus Bone, Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua. Ia memastikan Reinal Takene, alumnus Seminari Menengah Santo Rafael Kupang, tiba di Rumah Pembinaan TOR Lo'o Damian Nenuk, Atambua, sebelum batas waktu yang ditentukan.
Batas Waktu Masuk dan Tugas Pertama Calon Frater
Sesuai ketentuan yang berlaku bagi angkatan baru, seluruh calon frater diwajibkan hadir di Rumah Pembinaan TOR Lo'o Damian Nenuk paling lambat 1 Agustus 2026 pukul 17.00 Wita. Masa orientasi ini menjadi gerbang awal dari rangkaian panjang proses pembinaan menuju imamat.
Reinal sendiri telah menempuh pendidikan selama empat tahun di Seminari Menengah Santo Rafael Kupang sebelum melanjutkan jenjang formasi berikutnya di Atambua.
Kehadiran Pastor Bukan Sekadar Antar-Jemput
Bagi Paroki Kolhua, langkah Reinal tidak dilihat sebagai urusan pribadi. RD Longginus Bone menegaskan bahwa pengantaran ini adalah wujud nyata Gereja berjalan bersama umat sejak awal proses panggilan, bukan sekadar memfasilitasi perpindahan tempat tinggal.
“Panggilan menjadi imam adalah rahmat Allah yang perlu dipelihara bersama. Kehadiran pastor untuk mengantar calon frater bukan sekadar perjalanan menuju tempat pembinaan, tetapi juga tanda bahwa Gereja berjalan bersama mereka sejak awal proses panggilan. Kami berharap Reinal menjalani masa pembinaan dengan setia, rendah hati, dan penuh sukacita. Semoga langkah ini juga menginspirasi semakin banyak kaum muda di Paroki Kolhua untuk berani menjawab panggilan Tuhan,” ujar imam yang akrab disapa Romo Dus Bone.
Kebanggaan Umat Stasi Bello
Kabar keberangkatan Reinal turut menjadi sukacita tersendiri bagi umat Stasi Santo Agustinus Bello. Sebagai putra stasi, panggilan yang tumbuh dari lingkungan ini dianggap buah dari kehidupan iman yang dipupuk dalam keluarga dan komunitas.
“Kami atasnama seluruh umat Stasi Santo Agustinus Bello merasa bangga dan bersyukur karena Reinal Takene merupakan salah satu putra stasi kami yang terpanggil mengikuti pembinaan calon imam. Kami mendukung penuh perjalanan panggilannya dan terus mendoakan agar ia tetap setia hingga tahbisan nanti. Semoga kehadiran Reinal menjadi teladan yang membangkitkan lahirnya panggilan-panggilan baru dari lingkungan dan stasi kami,” kata Donatus Manehat, Ketua Stasi Bello.
Menjawab Panggilan di Tengah Godaan Zaman
RD Toni Kobesi, Pastor Rekan Paroki Kolhua, menyebut keputusan para lulusan seminari untuk melanjutkan pembinaan sebagai pilihan yang patut dihargai. Ia menilai keberanian ini tidak mudah, terlebih ketika kehidupan modern menawarkan banyak pilihan dan tantangan.
“Keberanian menjawab panggilan Tuhan pada zaman yang serba cepat dan penuh godaan merupakan anugerah yang patut disyukuri. Panggilan seperti ini perlu terus didampingi agar bertumbuh menjadi kesetiaan dalam pelayanan. Sebagai imam dan bagian dari komunitas Paroki Kolhua, kami berkomitmen mendukung serta mendoakan setiap anak yang terpanggil untuk hidup membiara. Secara khusus mereka yang berasal dari Kapela Santo Agustinus Bello. Semoga semakin banyak kaum muda berani membuka hati dan menanggapi panggilan Tuhan dengan sukacita,” ujar Romo Toni.
Proses yang ditapaki Reinal Takene menggambarkan bahwa panggilan imamat lahir dari ekosistem iman yang hidup. Kehadiran Romo Dus Bone mengantar langsung menjadi simbol bahwa perjalanan menuju altar dimulai dari langkah kecil yang dijalani bersama, dalam semangat persaudaraan, doa, dan harapan akan lahirnya semakin banyak pelayan Gereja di masa depan.