NUSA TENGGARA TIMUR — Kecanduan ponsel pintar bukan sekadar mitos. Seorang redaktur teknologi yang sehari-hari mengulas perangkat Android mengaku terkejut saat mengecek statistik screen-on-time mingguannya. Rata-rata, ia menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scrolling Twitter, Instagram, Threads, hingga Reddit tanpa sadar.
"Saya menulis tentang ponsel setiap hari, dan saya bisa mengakui bahwa saya kecanduan. Saya perlu jeda, dan ternyata itu membuat saya lebih bahagia dan lebih sehat," tulisnya dalam artikel panjang di platform teknologi global.
Apa yang Terjadi pada Screen Time Rata-rata?
Berdasarkan data yang ia kumpulkan, screen-on-time dalam sepekan jauh melebihi batas wajar. Kebiasaan ini dimulai dari kebiasaan kecil: setiap kali menganggur, tangan otomatis meraih ponsel, membuka Twitter, dan menarik refresh. Tanpa disadari, 20 menit terbuang sia-sia.
Fenomena ini bukan hanya dialami jurnalis. Hampir semua orang yang ditemuinya mengaku resah dengan waktu yang terbuang di depan layar. "Ambil lima menit untuk berbincang dengan siapa pun, dan hampir semuanya mengeluhkan betapa banyak waktu yang terbuang untuk menatap kotak bercahaya itu," katanya.
Mengapa Fitur Digital Wellbeing Gagal?
Google menyediakan Digital Wellbeing di Android untuk membatasi penggunaan aplikasi. Namun, jurnalis ini menganggap fitur tersebut mudah diakali. "Tombol 'Gunakan aplikasi selama 5 menit' itu bukan rintangan sama sekali. Saya bisa melewatinya kapan pun," ujarnya.
Ia bahkan tetap menggunakan fitur tersebut untuk mengunci Slack di akhir pekan, tapi tetap saja check-in Minggu malam karena khawatir ada yang terlewat. Solusi yang lebih drastis akhirnya diambil: menghapus semua aplikasi media sosial dari ponsel, dan hanya mengaksesnya melalui browser PC.
Langkah Detoks yang Terbukti Efektif
Alih-alih sekadar mengganti satu platform dengan platform lain—dari Twitter ke Threads, lalu ke Reddit—ia memutuskan untuk mengganti kebiasaan memegang ponsel itu sendiri. Setiap kali ada keinginan men-scroll, ia mengambil benda lain atau melakukan aktivitas fisik.
Salah satu langkah paling radikal: tidak lagi membawa ponsel ke kamar mandi. "Kedengarannya menjijikkan, tapi kita semua melakukannya. Saat ke toilet, 99 dari 100 kali kita scrolling. Saya memutuskan untuk meninggalkan ponsel di saku atau di tempat lain," jelasnya.
Hasilnya, dalam beberapa bulan tanpa media sosial di ponsel, ia merasa lebih hadir (present) dalam setiap momen. Meski masih menggunakan ponsel untuk Uber, Google Maps, Google Wallet, dan bahkan sebagai kunci mobil, kebiasaan kompulsif untuk terus-menerus mengecek notifikasi perlahan hilang.
Pelajaran untuk Pengguna HP di Indonesia
Fenomena ini relevan bagi pengguna ponsel di Indonesia, di mana rata-rata screen time harian mencapai 5,5 jam (data 2024). Banyak yang mengaku kecanduan TikTok, Instagram, atau YouTube Shorts tanpa sadar.
Tips dari jurnalis tersebut: langkah pertama adalah mengakui ada masalah. Kedua, jangan cukup dengan mengatur timer aplikasi—karena otak kita pintar mencari celah. Ketiga, buat hambatan nyata dengan menghapus aplikasi atau hanya mengaksesnya melalui perangkat lain yang merepotkan.
"Tidak ada yang akan benar-benar meninggalkan ponselnya. Tapi kita bisa memutuskan kapan dan bagaimana kita menggunakannya," pungkasnya.