KUPANG — Tim dari ITB dan Unpad bersama Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Undana merakit langsung alat filtrasi di tengah permukiman warga. Ketua Tim PMKI 2026, Prof. Muhammad Ali Zulfikar, menjelaskan bahwa sebelum teknologi diterapkan, sampel air sungai telah melalui uji laboratorium untuk memastikan parameter pencemarannya.
"Desa Fatukoko sengaja dipilih karena masih menghadapi persoalan akses air bersih. Sebelum teknologi filtrasi diterapkan, sampel air sungai telah melalui pengujian laboratorium," kata Muhammad Ali Zulfikar di Kupang, Kamis.
Air Sungai Berubah Bening, Warga Tetap Diimbau Masak Air
Dalam demonstrasi yang digelar bersama warga, tim menunjukkan perbedaan kualitas fisik yang mencolok. Air sungai yang keruh berubah menjadi lebih jernih setelah melewati proses filtrasi sederhana. Meski demikian, tim tetap menganjurkan masyarakat untuk memasak air hasil filtrasi sebelum dikonsumsi hingga hasil evaluasi lanjutan keluar.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Undana, Prof. Philiphi de Rozari, menekankan bahwa teknologi ini harus selaras dengan kondisi sosial budaya masyarakat lahan kering kepulauan. "Penerapan teknologi modern perlu diselaraskan dengan kondisi sosial budaya masyarakat di wilayah lahan kering kepulauan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan," ujarnya.
Bukan Sekadar Proyek Satu Musim: Desa Fatukoko Akan Jadi Desa Binaan
Kolaborasi ini tidak berhenti pada pemasangan alat. Prof. Aliya Nur Hasanah dari Unpad menegaskan bahwa kemitraan empat perguruan tinggi ini dirancang sebagai program pendampingan jangka panjang. "Kita harapkan program ini menjadi program pendampingan jangka panjang dengan menjadikan Desa Fatukoko sebagai desa binaan," tegasnya.
Selain air bersih, tim dari UGM bersama Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Undana serta Dinas Peternakan Kabupaten TTS juga memberikan layanan kesehatan hewan. Penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan ternak warga dilakukan untuk mencegah penyakit yang kerap muncul saat musim kemarau.