KUPANG — Perum Bulog Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatatkan rekor penyerapan beras lokal. Hingga 12 Juli 2026, sebanyak 7.407 ton setara beras hasil panen petani berhasil diserap, melampaui target tahunan yang ditetapkan.
Angka tersebut setara dengan 103 persen dari target pengadaan tahun 2026. Dibandingkan tahun lalu, capaian ini menunjukkan lonjakan signifikan. Sepanjang 2025, Bulog NTT hanya menyerap 6.000 ton beras dari petani setempat.
Mengapa Serapan Beras Lokal di NTT Melonjak Drastis?
Pemimpin Perum Bulog Kanwil NTT Arrahim K. Kanam mengungkapkan, peningkatan ini bukan sekadar pemenuhan target administratif. “Swasembada pangan merupakan salah satu program utama dari pemerintahan Presiden Prabowo. Kami di daerah bergerak cepat memastikan bahwa hasil keringat petani NTT terserap dengan baik,” ujarnya di Kupang, Senin.
Bulog NTT mengklaim telah mengubah strategi penyerapan. Tidak lagi menunggu petani datang, mereka aktif melakukan penjemputan hasil panen langsung ke sentra produksi padi di tiga pulau utama: Timor, Flores, dan Sumba.
Sinergi Lintas Sektor: Dari TNI hingga Penggilingan Padi
Untuk mencapai target ini, Bulog NTT memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak. Mereka menggandeng Pemerintah Provinsi NTT, dinas pertanian dan ketahanan pangan di tingkat kabupaten/kota, penyuluh pertanian lapangan (PPL), serta pengusaha penggilingan padi.
Tak hanya itu, TNI dan Polri juga dilibatkan dalam proses pengawalan distribusi dan pendataan hasil panen. Arrahim menyebut sinergi ini penting untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani sekaligus memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).
Berapa Harga yang Didapat Petani?
Meski dalam keterangannya Arrahim tidak merinci angka pasti harga pembelian pemerintah (HPP) yang diterapkan, ia menegaskan bahwa Bulog menjamin harga jual yang layak bagi petani. “Kami memastikan hasil keringat petani NTT memiliki harga jual yang layak,” katanya.
Dengan sisa waktu tahun berjalan yang masih panjang, Bulog NTT optimistis angka penyerapan akan terus bertambah. Masa panen di sejumlah wilayah sentra produksi padi di NTT masih berlangsung hingga beberapa pekan ke depan.
Bulog NTT mengimbau seluruh mitra kerja pengadaan dan kelompok tani untuk terus memperkuat sinergi. “Demi mewujudkan ketahanan pangan yang mandiri dan berkelanjutan di bumi Flobamora,” pungkas Arrahim.