SMK Go Global di Kupang Siapkan Lulusan NTT Kerja ke Luar Negeri, Bahasa Inggris Jadi Bekal Utama

Penulis: Aditya Nugraha  •  Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:30:31 WIB
Siswa SMKN 6 Kupang mengikuti program SMK Go Global untuk menyiapkan kompetensi kerja ke luar negeri.

KUPANG — Dua sekolah menengah kejuruan di Kupang, yakni SMKN 1 Kupang dan SMKN 6 Kupang, menjadi sasaran awal program SMK Go Global yang disiapkan pemerintah untuk membuka akses kerja luar negeri bagi lulusan SMK di Nusa Tenggara Timur. Program ini menyiapkan peserta didik tidak hanya dengan ijazah dan keterampilan sesuai bidang keahlian, tetapi juga kemampuan berbahasa asing, etos kerja, dan kompetensi profesional yang dibutuhkan di dunia kerja global.

Kepala SMKN 6 Kupang, Asa Lahtang, menyebut keterbatasan fasilitas bukan alasan bagi sekolah untuk berhenti berinovasi. Menurutnya, sekolah harus mulai memikirkan peluang kerja lulusannya di luar negeri, termasuk menyiapkan kemampuan bahasa Inggris sebagai bekal utama.

Bahasa Inggris Disiapkan Sejak Sekarang

Asa menegaskan bahwa kemampuan berbahasa Inggris perlu dipersiapkan jauh sebelum siswa lulus agar mereka siap ketika ada permintaan tenaga kerja dari luar negeri.

"Kami mulai memikirkan bagaimana lulusan SMKN 6 Kupang dapat bekerja di luar negeri. Karena itu, kemampuan bahasa Inggris perlu dipersiapkan sejak sekarang agar ketika lulus dan ada permintaan tenaga kerja, siswa kita sudah memiliki bekal untuk memenuhi peluang tersebut," ujarnya.

Ia mengakui keterbatasan fasilitas masih menjadi tantangan. Namun hal itu tidak boleh memadamkan semangat pembenahan kualitas pendidikan.

"Saya mempunyai prinsip, lebih baik kita memulai dan membenahi apa yang ada daripada tidak memulai sama sekali. Hari ini kita mulai dari apa yang kita miliki," tegasnya.

Asa juga mengajak seluruh guru mengambil bagian dalam menyiapkan siswa. Pendidikan vokasi, katanya, harus berorientasi pada hasil nyata, yakni lulusan yang mampu memasuki dunia kerja termasuk di luar negeri.

Peserta Diminta Tentukan Negara Tujuan dan Bidang Kerja

Peserta pelatihan diminta memanfaatkan kesempatan secara maksimal. Selain menguasai materi, mereka perlu mulai memikirkan negara tujuan, bidang pekerjaan yang sesuai, serta kesiapan beradaptasi dengan lingkungan kerja internasional.

Satu hal yang juga perlu mendapat perhatian, lanjut Asa, adalah kesiapan orang tua memberikan dukungan apabila anak mereka memperoleh kesempatan bekerja atau mengikuti pendidikan di luar negeri. Ia berharap program SMK Go Global tidak hanya bermanfaat bagi dua sekolah yang terlibat, tetapi juga diperluas ke sekolah lain di NTT.

BP3MI NTT: Tantangan Bukan Hanya Keterampilan

Kepala BP3MI NTT Suratmi Hamida menilai tantangan terbesar NTT bukan sekadar menyiapkan generasi muda yang terampil, tetapi memastikan mereka bisa mengakses pekerjaan sesuai kompetensi masing-masing. Banyak anak muda NTT punya kemampuan dan potensi berkembang, namun tidak semuanya mendapat akses memadai terhadap informasi, pelatihan, dan peluang kerja.

Suratmi berharap program SMK Go Global tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi menjadi pintu masuk bagi generasi muda memperoleh kesempatan kerja lebih luas. Ia juga meminta Pemerintah Provinsi NTT mendukung pelaksanaan program secara optimal agar peningkatan kualitas SDM berjalan beriringan dengan upaya mengurangi pengangguran.

Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan atau memperoleh sertifikat. Indikator yang lebih penting adalah berapa banyak generasi muda yang berhasil mendapatkan pekerjaan, meningkatkan taraf hidup, dan mengembangkan karier sesuai kompetensinya.

"Program ini harus memiliki keberlanjutan. Jangan hanya berhenti pada pelatihan, tetapi harus ada pendampingan dan akses menuju dunia kerja. Kita perlu mengukur keberhasilannya dari berapa banyak anak muda yang mendapatkan pekerjaan dan mampu memperbaiki taraf hidupnya," ujarnya.

Bekal Kompetensi Menuju Pasar Kerja Global

Dalam pelaksanaan program, peserta diharapkan tidak hanya memperkuat kemampuan bahasa Inggris, tetapi juga meningkatkan keterampilan teknis dan kesiapan menghadapi budaya kerja di negara tujuan. Pelatihan diarahkan pada praktik yang memadai agar peserta mampu menerapkan pengetahuan dalam situasi kerja nyata.

Kemampuan berkomunikasi secara profesional, ketelitian, dan kedisiplinan menjadi bagian dari kompetensi yang dibangun. Dengan bekal itu, lulusan SMK di NTT diharapkan mampu bersaing di pasar kerja internasional sekaligus membantu menekan angka pengangguran di daerah.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: sergap.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top