Rupiah NDF Dibuka Menguat Tipis ke Rp17.915, Brent Berbalik Melemah

Penulis: Dimas Prasetyo  •  Senin, 12 Oktober 2026 | 08:06:01 WIB
Rupiah NDF dibuka menguat tipis ke Rp17.915 per dolar AS sebelum kembali melemah.

NUSA TENGGARA TIMUR — Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka menguat terbatas 0,02% ke posisi Rp17.915 per dolar AS, sebelum kembali terpeleset 0,04% ke Rp17.927. Pergerakan mata uang offshore ini terjadi saat harga minyak Brent berbalik arah dari kenaikan awal 0,22% menjadi koreksi 0,91% ke US$103,95 per barel.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah offshore sempat mencoba bertahan di zona hijau pada pembukaan sesi, namun tekanan jual kembali muncul tak lama berselang. Pelemahan ini memperpanjang fase konsolidasi mata uang Garuda setelah penguatan tipis pada perdagangan pekan lalu.

Indeks dolar AS yang terpangkas ke level 102,2 memberi sedikit ruang bagi sebagian mata uang kawasan untuk bergerak. Namun ruang tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren pelemahan yang sudah berlangsung beberapa waktu terakhir.

Brent Berbalik Arah, Tekanan ke Rupiah Kembali Terbuka

Harga minyak mentah Brent sempat dibuka naik 0,22% ke US$104,94 per barel pada awal sesi. Kenaikan itu tidak bertahan lama. Brent kemudian berbalik melemah 0,91% ke US$103,95 per barel.

Pergerakan minyak dan dolar AS tersebut berpotensi memberi sedikit ruang bagi rupiah dan sebagian mata uang kawasan untuk bertahan. Namun volatilitas harga komoditas energi tetap menjadi faktor yang membatasi penguatan lebih lanjut.

Won Korea Pimpin Penguatan Mata Uang Asia

Di pasar valuta Asia yang sudah buka pada 07.30 WIB, won Korea Selatan mencatat penguatan paling tajam sebesar 0,41%. Yen Jepang, dolar Singapura, dan ringgit Malaysia menyusul dengan penguatan yang lebih terbatas.

Penguatan di pasar valuta Asia belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren pelemahan secara menyeluruh. Pasar masih menunggu katalis yang lebih solid sebelum menentukan arah jangka pendek.

Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Dolar Berikutnya

Arah dolar AS masih akan dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve. Pasar mencermati rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat dan pernyataan para pejabat bank sentral pada pekan ini.

Bagi pelaku pasar valuta, kombinasi data inflasi dan sinyal suku bunga The Fed akan menentukan apakah dolar AS melanjutkan penguatan atau justru terkoreksi lebih dalam. Posisi rupiah dalam jangka pendek sangat bergantung pada dua variabel tersebut.

Pergerakan rupiah di pasar NDF sering menjadi indikator awal arah kurs spot pada sesi berikutnya. Pelaku usaha yang memiliki eksposur dolar AS perlu mencermati perkembangan data ekonomi AS dalam beberapa hari ke depan.

Reporter: Dimas Prasetyo
Sumber: bloombergtechnoz.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top