Pembangunan Kopdes Merah Putih di TTS Diharapkan Libatkan Tukang dan Pengusaha Lokal Sejak Awal

Penulis: Endra Sanjaya  •  Kamis, 08 Oktober 2026 | 08:01:31 WIB
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Kabupaten Timor Tengah Selatan tengah berjalan.

SOE — Pembangunan Kopdes Merah Putih di Kabupaten Timor Tengah Selatan tengah berjalan, dan perhatian kini mengarah pada siapa yang mengerjakan proyek tersebut. Yabes Nubatonis, praktisi hukum yang juga pemerhati masyarakat TTS, menyebut pekerjaan fisik sebaiknya tidak berhenti pada berdirinya bangunan. Menurut dia, sejak pekerjaan dimulai, warga lokal perlu diberi kesempatan terlibat sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.

Ia menilai semangat pemberdayaan masyarakat harus terasa sejak awal pelaksanaan program, bukan baru muncul setelah bangunan selesai. Keterlibatan itu, kata Yabes, menjadi jalan agar manfaat ekonomi langsung dirasakan warga sekitar lokasi pembangunan.

Kalau Ada Tukang Lokal, Mengapa Harus Cari dari Luar?

Yabes mempertanyakan kebiasaan mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah ketika tukang bangunan tersedia di desa sendiri. Menurut dia, logika sederhana itu seharusnya jadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan pekerjaan.

"Pembangunan Kopdes Merah Putih jangan hanya dilihat dari berdirinya bangunan. Sejak pekerjaan dimulai, masyarakat lokal harus mendapatkan kesempatan untuk terlibat sehingga ada manfaat ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat," ujar Yabes.

"Kalau ada tukang lokal buat apa cari tukang bangunan dari luar. Kalau ada pengusaha lokal, diharapkan bisa dilibatkan dalam pekerjaan tersebut," katanya menambahkan.

Manfaat Ekonomi yang Dimaksud Bukan Sekadar Upah Harian

Keterlibatan warga lokal dalam pekerjaan pembangunan membuka aliran uang yang berputar di kampung sendiri. Upah tukang, pembelian material dari toko setempat, hingga jasa angkutan menjadi bagian dari dampak yang bisa dirasakan langsung. Yabes menilai pola itu lebih sesuai dengan tujuan pemberdayaan yang diusung program Kopdes Merah Putih.

Pengusaha lokal yang dilibatkan juga berpeluang menambah pengalaman kerja pada proyek berskala desa. Bagi desa yang jarang mendapat proyek pembangunan, kesempatan semacam ini menjadi modal tersendiri.

Pekerjaan Fisik dan Pemberdayaan Harus Jalan Bersamaan

Yabes menegaskan dua hal itu tidak perlu dipertentangkan. Penyelesaian bangunan tetap penting, tetapi prosesnya bisa sekaligus menjadi ruang belajar dan sumber penghasilan bagi warga. Ia berharap pihak pelaksana membuka ruang komunikasi dengan perangkat desa untuk mendata tukang dan pengusaha yang siap dilibatkan.

Pendataan semacam itu, menurut dia, membuat pelibatan warga berjalan sesuai ketentuan yang berlaku tanpa mengorbankan mutu pekerjaan. Warga pun tahu jalur mana yang harus ditempuh jika ingin ikut serta.

Harapan agar Semangat Pemberdayaan Tidak Berhenti di Seremoni

Program Kopdes Merah Putih menyasar desa-desa di sejumlah daerah, termasuk di Nusa Tenggara Timur. Yabes mengingatkan keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah bangunan yang berdiri. Yang perlu dilihat, kata dia, apakah warga sekitar benar-benar merasakan dampaknya.

Ia berharap pelibatan masyarakat lokal di TTS menjadi praktik yang berjalan konsisten hingga pekerjaan rampung. Dengan begitu, semangat pemberdayaan yang dibawa program ini tidak berhenti pada seremoni peletakan batu pertama.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: flobamora-news.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top