OpenAI Rilis Panduan AI untuk Keluarga, 9 dari 10 Remaja Pakai ChatGPT

Penulis: Aditya Nugraha  •  Rabu, 30 September 2026 | 20:34:02 WIB
Head of Policy Southeast Asia OpenAI, Sandy Kunvatanagarn, memaparkan panduan penggunaan AI bagi keluarga dalam media gathering di Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

NUSA TENGGARA TIMUR — OpenAI merilis PandAI untuk Keluarga, panduan praktis penggunaan AI bagi orang tua dan remaja di Indonesia dan Asia Tenggara. Langkah ini merespons data yang menyebut 9 dari 10 pengguna remaja mengakses ChatGPT setiap pekan, mayoritas untuk belajar. Survei UNICRI 2025 menunjukkan 44% orang tua merasa belum cukup berpengetahuan untuk membimbing anak memakai AI secara aman.

Head of Policy Southeast Asia OpenAI, Sandy Kunvatanagarn, memaparkan panduan tersebut dalam media gathering di Penang Bistro, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026). Ia menyebut pendekatan yang seragam tidak akan bekerja karena setiap keluarga punya dinamika berbeda.

Mengapa Orang Tua Perlu Terlibat

Survei global UNICRI 2025 mencatat 49% orang tua belum pernah berbicara dengan anak mereka soal AI generatif. Sebanyak 40% lainnya mengaku tidak memantau bagaimana anak menggunakan teknologi tersebut.

Kesenjangan literasi AI antara orang tua dan remaja jadi persoalan utama. Orang tua dituntut memahami untuk apa anak memakai AI, mengapa mereka tertarik, dan bagaimana cara mengajarkannya dengan tepat.

"Setiap keluarga berbeda, dan dinamika Anda dengan anak-anak Anda juga berbeda. Jadi, ide utamanya adalah percakapan (tentang AI) ini," kata Sandy.

Ia menambahkan, pertanyaan soal penggunaan AI oleh remaja memang semakin penting dibahas. Menurutnya, tidak ada satu jawaban yang cocok untuk semua keluarga.

"Kami berpikir cara terbaik untuk benar-benar menentukan jawaban yang tepat bagi keluarga Anda adalah melakukan percakapan bersama sebagai keluarga, karena tidak ada satu jawaban yang tepat untuk setiap keluarga," ujarnya.

Manfaat Belajar Jadi Fokus Utama

OpenAI menegaskan pembicaraan soal AI oleh remaja tidak seharusnya hanya berpusat pada potensi penyalahgunaan. Data mereka menunjukkan 9 dari 10 remaja yang memakai ChatGPT menggunakannya untuk belajar.

Untuk mendukung pola itu, OpenAI mengembangkan Mode Belajar atau Study Mode. Fitur ini membuat ChatGPT tidak langsung memberi jawaban, melainkan membantu pengguna memahami persoalan.

"Jika mode mengenali bahwa Anda sedang mencoba belajar, ChatGPT tidak akan hanya memberikan jawabannya, tetapi akan membantu memikirkan sebuah pertanyaan atau memahami suatu persoalan," jelas Sandy.

OpenAI juga sedang mengembangkan kemampuan agar model dapat mendeteksi sendiri kapan pengguna sedang belajar. Tujuannya agar pendekatan tersebut berjalan lebih intuitif tanpa perlu pengaturan manual.

Perlindungan Khusus untuk Remaja

Selain mendorong percakapan keluarga, OpenAI membangun sejumlah perlindungan khusus bagi pengguna remaja. Salah satunya lewat peluncuran ChatGPT untuk Remaja.

Versi ini hadir dengan pengaturan keamanan yang aktif secara default. Desain tersebut dibuat agar remaja tetap bisa mengambil manfaat AI tanpa mengabaikan aspek keselamatan.

"ChatGPT untuk Remaja adalah versi ChatGPT dengan perlindungan dan pengaturannya aktif secara default," tutur Sandy.

Peran Seluruh Ekosistem

Sandy menilai orang tua, pendidik, pengembang model, dan pembuat produk AI punya peran masing-masing. Orang tua dan keluarga memberi panduan, sementara pendidik bertanggung jawab membahas penggunaan AI yang sesuai di sekolah.

"Karena ada manfaat besar yang bisa diperoleh remaja dan anak muda dari teknologi ini, pendekatan kami secara keseluruhan adalah seluruh ekosistem memiliki peran," ujarnya.

Peluncuran panduan ini menandai langkah OpenAI memperkuat sisi literasi digital di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang memiliki basis pengguna ChatGPT besar dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top