Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nusa Tenggara Timur menilai penguatan standar keselamatan dan sertifikasi pemandu menjadi syarat utama pengembangan wisata gunung api di wilayah itu. Ketua ASITA NTT Oyan Kristian menyebut peserta dan pemandu volcano tour harus memiliki kompetensi khusus sebelum aktivitas dilakukan. Penilaian itu muncul seiring potensi Gunung Kelimutu di Ende dan Gunung Inerie di Ngada sebagai destinasi baru.
KUPANG — ASITA NTT menekankan bahwa wisata gunung api tidak bisa dijalankan dengan pendekatan wisata alam biasa. Oyan Kristian mengatakan setiap peserta wajib memenuhi standar tertentu, termasuk pelatihan dan pengalaman, sebelum diizinkan mengikuti perjalanan ke kawasan gunung api.
"Di volcano tour pun harus ada standar tertentu yang sudah dipenuhi oleh peserta, sehingga sudah terlatih atau sudah memiliki pengalaman, bukan orang yang baru sedang coba-coba," kata Oyan saat dihubungi di Kupang, NTT, Sabtu.
Kompetensi pemandu menjadi poin lain yang disorot ASITA NTT. Menurut Oyan, pemandu volcano tour perlu memiliki sertifikasi khusus dan kemampuan membaca karakteristik serta risiko kegunungapian.
"Demikian pun dengan pemandunya adalah orang yang memang sudah tersertifikasi secara khusus untuk mengatur wisata gunung atau volcano tour ini," ujarnya.
Selain peserta dan pemandu, operator atau penyelenggara wisata juga dituntut memenuhi persyaratan keselamatan tertentu sebelum menjalankan aktivitas. Oyan menilai kewajiban itu berlaku bagi semua pihak yang mengelola perjalanan ke kawasan gunung api.
ASITA NTT menyoroti pentingnya pelaporan setiap aktivitas wisata ke kawasan gunung api kepada pihak berwenang. Wisatawan dinilai tidak seharusnya langsung melakukan aktivitas tanpa memperoleh informasi dan izin dari otoritas yang mengawasi kawasan tersebut.
"Kalau ada wisata naik ke gunung api tertentu, itu harus dilaporkan kepada badan yang melakukan pengawasan atau yang punya otoritas memberikan izin kepada area-area gunung api tersebut," ujar Oyan.
Informasi terkini soal aktivitas gunung api juga disebut menjadi bagian penting sebelum perjalanan dilakukan. Pihak yang memiliki data tersebut perlu menyampaikannya kepada operator wisata sebagai dasar menentukan kelayakan kegiatan.
"Sangat penting untuk memberikan informasi terkait aktivitas gunung api, sehingga untuk setiap pendaki gunung atau wisatawan yang mau naik ke gunung api wajib dan harus mendapatkan informasi itu sebelum naik," katanya.
Sejumlah gunung api di NTT berpotensi dikembangkan untuk wisata gunung api, antara lain Gunung Kelimutu di Kabupaten Ende dan Gunung Inerie di Kabupaten Ngada. Oyan menyebut potensi itu bisa membuka paket wisata baru di luar paket yang sudah ada.
"Ini adalah potensi baru wisata gunung api. Namun, tentu saja harus dipahami, dipelajari bagaimana potensi ini kemudian bisa benar-benar memberikan manfaat nilai secara ekonomi tanpa mengurangi faktor keamanan dan keselamatan wisatawan," katanya.
ASITA NTT berharap pemerintah memperkuat pelatihan dan edukasi bagi operator wisata serta pemandu yang menangani kegiatan wisata gunung api. Penataan destinasi juga dinilai perlu dilakukan secara terstruktur, termasuk alur kunjungan wisatawan dan pemahaman pihak-pihak yang menangani wisatawan mengenai kegunungapian.
"Kita tidak hanya melihat bahwa ini potensi yang tidak baik, tetapi kita melihat bahwa ada potensi lain yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, yang bisa membuat paket-paket wisata baru selain yang sudah existing, yaitu paket wisata naik ke gunung api," ujarnya.