SOE — Keluhan warga Nunumeu soal layanan air bersih mencuat setelah sekitar sebulan keran di rumah mereka tidak mengalir. Petugas Perumda Air Minum Kabupaten TTS disebut masih mendatangi rumah pelanggan untuk mencatat meteran meski pasokan air tidak berjalan.
David Imanuel Boimau, warga setempat yang juga anggota DPRD Provinsi NTT, menyoroti praktik pencatatan itu. Menurut dia, aktivitas tersebut tidak seharusnya berjalan normal ketika pelanggan justru tengah kesulitan mendapatkan air.
David mempertanyakan mengapa pencatatan meteran tetap dilakukan dari rumah ke rumah saat aliran air tidak tersedia. Ia menilai hal itu menunjukkan persoalan pelayanan yang lebih mendasar, bukan sekadar gangguan teknis sesaat.
“Airnya tidak jalan tetapi petugas PDAM tetap melakukan pencatatan meteran dengan percaya diri dari rumah ke rumah. Sebenarnya ketika air tidak jalan maka harus malu mencatat meteran. Itu etika budaya malu yang secara lembaga harus sadar diri,” tegas David.
Pernyataan itu menempatkan manajemen Perumda TTS pada posisi yang perlu menjelaskan dasar pencatatan. Warga sebagai pelanggan, kata David, berhak mendapat kejelasan atas layanan yang mereka bayar.
David menyebut kondisi ini semestinya menjadi momentum bagi manajemen Perumda untuk mengevaluasi pelayanan. Ia menilai lembaga perlu menunjukkan tanggung jawab kepada masyarakat sebagai pelanggan.
Kritik tersebut menyentuh dua hal sekaligus: pasokan air yang tidak mengalir selama sekitar sebulan, dan pencatatan meteran yang tetap berjalan. Keduanya menjadi dasar keluhan warga Nunumeu yang disampaikan melalui anggota DPRD provinsi.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari manajemen Perumda Air Minum Kabupaten TTS mengenai keluhan tersebut. Warga menunggu langkah perbaikan layanan sekaligus penjelasan atas pencatatan meteran yang berlangsung selama pasokan air tidak tersedia.