Kementerian Pariwisata memperkuat kompetensi dan keselamatan 40 pemandu wisata snorkeling di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, melalui pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi kerja. Pelatihan berlangsung Selasa (22/9) hingga Kamis (24/9) sebagai tindak lanjut rekomendasi Rapat Koordinasi Pemulihan Pariwisata Flores dan Isu Kepariwisataan Labuan Bajo pada 28 Agustus 2026. Sertifikasi yang ditempuh peserta mencakup skema uji Pemandu Wisata Snorkeling Level III.
LABUAN BAJO — Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata Martini M. Paham menyatakan penguatan kompetensi diperlukan untuk memastikan aktivitas wisata berjalan aman sekaligus memberikan pengalaman yang baik kepada wisatawan. Pelatihan itu digelar melalui Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Industri Kementerian Pariwisata bersama LSP Pramuwisata Indonesia, BPOLBF, dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
Martini menempatkan keselamatan sebagai fondasi kualitas pariwisata di destinasi super prioritas tersebut.
"Keamanan adalah fondasi dari kualitas pariwisata. Pariwisata yang maju adalah pariwisata yang aman. Tanpa rasa aman, tidak akan ada kepercayaan wisatawan," katanya.
Menurut Martini, pemandu wisata yang berhadapan langsung dengan wisatawan perlu memiliki kemampuan mengidentifikasi risiko, memberikan edukasi keselamatan, serta menangani kondisi darurat secara cepat dan tepat. Peserta diminta menjadikan pelatihan sebagai bekal kerja harian di lapangan.
"Jadikan pelatihan ini sebagai bekal kita semua dengan memastikan bahwa setiap individu dapat mengidentifikasi risiko, mengedukasi wisatawan dengan tegas dan santun, serta melakukan penanganan darurat dengan cepat dan tepat," ujarnya.
Pelatihan menghadirkan Founder dan Managing Director Global Dive Center Indonesia John E. Sidjabat serta Ketua Perkumpulan Penyelam Profesional Komodo (P3KOM) Marselinus Betong sebagai narasumber.
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat Petrus A. Rasyid menilai kualitas pelayanan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pengalaman wisatawan selama berada di Labuan Bajo. Platform digital, katanya, memudahkan wisatawan menemukan dan memesan perjalanan ke Labuan Bajo.
"Yang membuat orang datang ke sini itu banyak. Teknologi digital, misalnya, membuat orang bisa datang ke Labuan Bajo. Tetapi yang membuat orang mau datang kembali ke Labuan Bajo adalah pengalaman," katanya.
Interaksi langsung dengan pelaku pariwisata tetap menjadi bagian dari pengalaman selama berada di destinasi, termasuk saat aktivitas snorkeling berlangsung.
Plt. Direktur Utama BPOLBF Andhy Marpaung menyatakan kompetensi pemandu snorkeling tidak hanya menyangkut kemampuan teknis, tetapi juga pelayanan, pemahaman terhadap kondisi wisatawan, pengenalan risiko, dan kemampuan menghadapi keadaan darurat.
"Pemandu wisata merupakan bagian penting dari pengalaman wisatawan. Karena itu, kompetensi tidak hanya berbicara tentang kemampuan teknis, tetapi juga bagaimana memberikan pelayanan yang baik, memahami kondisi wisatawan, mengenali potensi risiko, serta mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat," ujarnya.
Pelatihan diikuti 40 pelaku dan pemandu wisata. Setelah materi selesai, peserta mengikuti proses sertifikasi kompetensi kerja untuk skema uji Pemandu Wisata Snorkeling Level III.
Kegiatan diarahkan memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus penerapan pelayanan, keselamatan, dan mitigasi risiko dalam aktivitas wisata snorkeling di Labuan Bajo.