JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi I perdagangan Kamis, 24 September 2026 di level 6.307,11. Posisi itu turun 67,81 poin atau 1,06 persen dibandingkan pembukaan beberapa jam sebelumnya, menurut data RTI Business.
Sepanjang sesi pagi, indeks bergerak dari level pembukaan 6.364,98. Titik tertinggi sesi ini tercatat 6.368,57, sedangkan titik terendah menyentuh 6.304,01.
Tim Analis Phintraco Sekuritas sebelumnya memperkirakan IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.300–6.400. Mereka menyebut level 6.300 sebagai ambang koreksi lanjutan.
"Jika menembus level 6.300, maka IHSG akan terkoreksi dan kembali menguji level 6.200-6.270," kata Tim Phintraco Sekuritas.
Tekanan datang bukan hanya dari perdagangan saham. Pelaku pasar juga mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan pada September 2026.
Rapat Dewan Gubernur BI pada Rabu, 23 September 2026 memutuskan BI Rate tetap di level 5,75 persen. Menurut Tim Phintraco, keputusan itu sudah sesuai perkiraan pasar.
"Keputusan tersebut menggarisbawahi kekhawatiran bank sentral mengenai stabilitas rupiah, seiring dengan pergerakannya yang cenderung stabil," ujarnya.
BI juga berkomitmen menjaga inflasi pada kisaran target 2,5 plus minus 1 persen dan mendukung pertumbuhan ekonomi. "Ini merupakan upaya menarik aliran masuk modal asing serta memperkuat nilai tukar rupiah," kata Tim Phintraco.
Secara kumulatif, BI menaikkan suku bunga acuan hingga 100 basis poin pada Mei–Juni 2026. Level itu dipertahankan hingga kini.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit Indonesia meningkat 13,36 persen secara tahunan pada Agustus 2026. Tim Phintraco mencatat laju itu sebagai yang terkuat sejak Agustus 2014.
Tren positif tersebut didukung optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) BI. Insentif yang telah disalurkan lewat program ini mencapai Rp461,2 triliun pada awal September 2026.
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih diwarnai aksi jual investor asing. Hingga Rabu, 23 September 2026, net sell asing tercatat sebesar 468,26 miliar.
Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBRI, BMRI, TLKM, ISAT, dan ADRO. Sementara itu, saham sektor bahan baku (basic material) mencatat kenaikan tertinggi hingga 3,47 persen.