SIKKA — Warga Desa Nitung Lea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di tengah keterbatasan pasokan makanan pascagempa berkekuatan M 7,7. Material longsor yang menutup akses jalan penghubung antardesa di Pulau Palue membuat kendaraan roda dua maupun roda empat belum bisa melintas, sehingga distribusi bantuan terhambat.
Salah seorang warga, Lory Kadi, menuturkan bahwa dirinya bersama keluarga terpaksa berhemat dengan mengonsumsi makanan lokal yang tersisa. "Kami makan ubi kayu tambah ubi putih Palue. Irit-irit makanannya," ujarnya, Jumat (21/8/2026).
Kondisi ini diperparah dengan habisnya persediaan di sejumlah kios sekitar permukiman. Menurut Lory, para pemilik kios tidak mendapat pasokan baru karena akses jalan yang belum bisa dilalui kendaraan.
"Ada kios, tapi persediaan habis karena akses jalan yang belum bisa dilalui," kata Lory. Warga pun harus mengatur ulang porsi makan sambil menunggu akses tersebut kembali dibuka.
Sebelumnya, pada Kamis (20/8/2026) sekitar pukul 08.00 WITA, Lory bersama sejumlah warga berjalan kaki menempuh jarak sekitar 5 kilometer dari Desa Nitung Lea menuju Desa Rokirole. Mereka melewati bebatuan dan material longsor untuk mengambil bantuan yang diinformasikan oleh posko Kili-Cawalo.
Informasi yang diterima warga menyebutkan bahwa bantuan berupa terpal dan sembako telah tersedia. Terpal tersebut rencananya digunakan untuk tenda darurat menggantikan rumah-rumah yang rusak akibat gempa.
Namun, saat tiba di lokasi, warga hanya menerima bantuan sembako berupa 10 kilogram beras dan 10 butir telur untuk lima kepala keluarga. "Kami harus berangkat pagi sekali berjalan kaki 5 kilometer untuk bisa ambil terpal dan sembako, tetapi ternyata sampai di sana terpalnya belum ada dan hanya dapat sembako," ungkap Lory.
Bantuan yang diterima itu pun harus dibagi lagi untuk memenuhi kebutuhan 15 jiwa dalam satu kelompok keluarga.
Pemerintah kabupaten setempat terus berupaya membuka kembali akses jalan penghubung antardesa di Pulau Palue. Pembersihan material longsor dilakukan secara bertahap menggunakan alat berat agar jalur distribusi bantuan dan kebutuhan pokok dapat segera normal kembali.
Camat Palue, Rudolfus Riba, menyatakan proses pembukaan jalan telah berlangsung sejak 17 Agustus 2026. "Sudah digusur hari ketiga, sore ini sudah bisa lewat," tukasnya. Jika akses ini kembali terbuka, pasokan logistik diharapkan segera mengalir ke desa-desa yang terdampak.