KUPANG — Sebanyak 4.770 pengunjung memadati QRIS Street Festival dan Takuju Market Volume 5 yang berlangsung di Kota Kupang. Kepala Perwakilan BI NTT, Adidoyo Prakoso, mengungkapkan total transaksi nontunai selama empat hari acara mencapai 4.200 transaksi, sebuah indikator meningkatnya adopsi pembayaran digital di kalangan masyarakat.
“Pekan QRIS Nasional menjadi sarana untuk terus mengedukasi masyarakat mengenai transaksi nontunai sekaligus meningkatkan pemahaman terhadap perlindungan konsumen,” jelas Adidoyo di Kupang, Rabu (19/8).
Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, menegaskan bahwa digitalisasi sistem pembayaran bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan bagi pelaku usaha kecil. Ia menyebut QRIS sebagai jembatan bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar dan membangun kepercayaan konsumen.
“Di sinilah QRIS menjadi jembatan bagi UMKM kita untuk naik kelas, masuk ke ekosistem digital, membangun kepercayaan konsumen, dan membuka akses pasar yang lebih luas,” ujarnya saat meninjau stan UMKM dalam festival tersebut.
Serena yang juga menjabat sebagai Ketua DPW Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Provinsi NTT mengajak para pelaku ekonomi kreatif untuk tidak takut beradaptasi dengan teknologi. Ia menekankan bahwa transaksi digital memberikan pengalaman langsung bahwa pembayaran elektronik itu mudah, aman, dan memberikan manfaat nyata bagi pedagang.
“Semoga Pekan QRIS Nasional ini tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan saja, tetapi menjadi gerakan yang terus tumbuh di Kota Kupang dan seluruh NTT. Sebab dari transaksi kecil hari ini, kita sedang membangun ekonomi yang lebih besar untuk masa depan,” tegas Serena.
Adidoyo menambahkan, berakhirnya rangkaian PQN 2026 tidak lantas menghentikan upaya BI dalam memperluas penggunaan transaksi digital di wilayah NTT. Peningkatan jumlah pengguna QRIS harus selalu diimbangi dengan edukasi yang memadai agar masyarakat terhindar dari praktik penipuan atau penyalahgunaan data.
“Peningkatan akseptasi QRIS harus terus diiringi dengan edukasi agar masyarakat dapat melakukan transaksi secara aman dan memahami pentingnya perlindungan konsumen,” kata Adidoyo.
Kolaborasi antara BI NTT, BTN, Katong Nonstop Production, dan komunitas kreatif lokal dalam penyelenggaraan acara ini dinilai menjadi contoh sinergi yang efektif dalam mendorong percepatan digitalisasi ekonomi di daerah.