MATARAM — Pergerakan tiba-tiba pada bidang sesar di dasar laut menjadi faktor yang harus diwaspadai setelah gempa M 7,7 menggunakan Nagekeo, NTT. Dosen Teknik Geologi Universitas Muhammadiyah Mataram Aji Syailendra menegaskan bahwa perubahan vertikal dasar laut akibat pergerakan tersebut dapat mendorong kolom air dan memicu tsunami jika kondisinya terpenuhi.
Gempa yang berpusat di laut pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur itu berlokasi sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer. Guncangannya terasa hingga ke sejumlah kabupaten di NTT dan memicu peringatan dini tsunami dari BMKG yang kemudian dicabut pada pukul 08.30 WITA.
Aji menjelaskan, aktivitas tektonik tinggi di Nusa Tenggara dipengaruhi oleh berbagai struktur sesar aktif, salah satunya Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores. Struktur ini membentang sepanjang ratusan kilometer di dasar laut, mulai dari utara Flores, Sumbawa, Lombok, hingga kawasan Bali.
"Sesar Naik Busur Belakang Flores merupakan struktur tektonik aktif yang penting dalam memahami potensi gempa dan bencana geologi di Nusa Tenggara," ujar Aji dalam pernyataan di Mataram, Sabtu.
Sistem sesar tersebut memiliki potensi gempa besar dengan magnitudo berkisar 7,8 hingga 7,9. Artinya, energi yang dilepaskan pada gempa M 7,7 kali ini masih berada di bawah ambang maksimum perkiraan kekuatan sesar.
Peristiwa gempa tektonik yang terjadi hari ini bukanlah fenomena yang terisolasi. Menurut Aji, sistem sesar yang sama pernah memicu gempa dahsyat Flores pada 1992 dan rangkaian gempa Lombok pada 2018 silam.
"Kalau dilihat dari aspek geologi, ini merupakan sistem sesar yang sama dengan yang menyebabkan gempa Flores 1992 dan rangkaian gempa Lombok 2018," kata Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Mataram tersebut.
Sejarah mencatat, gempa Flores pada 12 Desember 1992 memicu tsunami yang menerjang Maumere dan Pulau Babi. Gelombang saat itu mencapai ketinggian sekitar 26 meter dan menyebabkan lebih dari 2.500 orang meninggal dunia.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Gubernur NTT Melki Laka Lena menyebut sebanyak lima orang meninggal dunia akibat gempa tektonik berkekuatan M 7,7 di Mbay, Kabupaten Nagekeo. BMKG sempat menerbitkan peringatan dini tsunami sesaat setelah gempa terjadi.
Peringatan tersebut resmi dicabut setelah hasil observasi menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut secara signifikan. Meski begitu, Aji mengingatkan bahwa dari sudut pandang geologi, Nusa Tenggara bukan sekadar wilayah yang sering gempa.
"Kawasan itu berada pada zona tektonik aktif dengan berbagai potensi bencana geologi mulai dari gempa bumi hingga tsunami," kata Aji.