NUSA TENGGARA TIMUR — PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memastikan proyek pengembangan tambang nikel Tanamalia di Blok Sorowako, Sulawesi Selatan, masih berada di jalur yang sesuai rencana. Perusahaan saat ini tengah fokus merampungkan tahap studi kelayakan atau Front End Loading (FEL) 2 sebelum mengambil keputusan investasi final.
Direktur Utama Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengungkapkan hasil eksplorasi sejauh ini menunjukkan prospek yang menjanjikan. Namun, ia belum bersedia merinci besaran cadangan yang sudah teridentifikasi. "Jadi kita fokus dulu untuk bisa mengeksplorasi, untuk menjustifikasi pengembangan tambang," kata pria yang akrab disapa Anto itu di Jakarta, Jumat (7/8).
Setelah FEL 2 rampung, proyek Tanamalia akan berlanjut ke FEL 3 yang merupakan fase persiapan menuju eksekusi pembangunan fisik. Berdasarkan peta jalan perusahaan, konstruksi diperkirakan dimulai pada 2027/2028. Adapun kegiatan penambangan paling cepat dapat dimulai pada 2030.
Proyek ini mencakup tiga sub-blok, yakni Leoha, Lemo-Lemo, dan Lingkona dengan total luas area mencapai 13.556,8 hektare. Pengembangannya menggunakan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) serta Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) Nomor 885 Tahun 2025 untuk kegiatan eksplorasi di kawasan hutan.
Tanamalia tidak sekadar menjadi tambang baru. Vale merancang kawasan ini sebagai proyek pengolahan nikel terintegrasi. Perusahaan berencana mengolah bijih nikel limonit dari area tersebut menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), yang menghasilkan produk bernilai tinggi untuk industri baterai.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Vale memperkuat portofolio nikel di Indonesia, di tengah kompetisi global memperebutkan bahan baku kendaraan listrik. Selain Tanamalia, Vale juga mengembangkan proyek strategis lain seperti Pomalaa, Morowali, dan Sorowako.
Perjalanan menuju produksi tidak hanya bergantung pada hitungan ekonomi. Tanamalia berada di wilayah yang mencakup kawasan hutan lindung dan hutan produksi terbatas, menjadikan aspek lingkungan dan sosial sebagai pekerjaan rumah yang tak bisa ditawar.
Anto menegaskan perusahaan akan patuh pada ketentuan hukum dan mengedepankan pendekatan humanis terhadap masyarakat sekitar. "Ya kita gini, intinya kita harus tetap patuh hukum. Kemudian kita menyadari ada masyarakat di sana, sebisa mungkin kita upayakan penyelesaiannya adalah penyelesaian yang humanis," jelasnya.
Direktur sekaligus Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Indonesia, Budiawansyah, mengakui tantangan tersebut. "Bolak-balik saya diingatkan, 'Pak, tolong diperhatikan sustainability-nya, tolong diperhatikan sosialnya.' Challenging, yes. But kita bisa melewati itu nanti," tegas Budi dalam gelaran Mining Nation Revolution yang diselenggarakan HIPMI di Jakarta, Kamis (6/8).
Budi menambahkan, Tanamalia akan menjadi salah satu sumber pertumbuhan Vale di masa mendatang dan saat ini mulai dirintis melalui kerja sama dengan sejumlah calon mitra. "Ini (Tanamalia) future dan sedang mulai dirintis. Itu kerja sama di Blok Tanamalia," ungkapnya.
Dengan cadangan yang terus dievaluasi dan dukungan teknologi pengolahan modern, Tanamalia berpotensi menjadi pilar baru bagi Vale dalam memasok nikel kelas baterai ke pasar global. Keberhasilan proyek ini juga akan menentukan posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia.