NUSA TENGGARA TIMUR — Kunjungan langsung pejabat puncak Bapanas dan Bulog ke Alor menegaskan prioritas pemerintah pada daerah terluar. Total alokasi yang disiapkan untuk tiga bulan ke depan mencapai 37.338 Penerima Bantuan Pangan (PBP), dengan masing-masing keluarga memperoleh 30 kilogram beras atau setara 10 kilogram per bulan.
Penyaluran tahap awal menjangkau tiga desa: Desa Fuisama dengan 66 penerima, Desa Probur sebanyak 513 penerima, dan Desa Lembur Barat untuk 222 keluarga. Angka ini hanya sebagian kecil dari total sasaran, namun menjadi uji coba penting bagi rantai distribusi di wilayah kepulauan.
Amran menegaskan kehadirannya di Alor bukan sekadar seremoni. Ia menyebut komitmen pemerintah untuk menjangkau masyarakat di pelosok harus dibuktikan dengan aksi nyata, bukan sekadar kebijakan tertulis.
"Pemerintah hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan pangan yang cukup dan bantuan yang menjadi haknya. Tidak boleh ada masyarakat yang merasa jauh dari perhatian pemerintah hanya karena berada di wilayah kepulauan atau pelosok," ujar Amran dalam keterangan resminya.
Pernyataan ini relevan mengingat Alor merupakan salah satu kabupaten kepulauan di NTT dengan akses logistik yang menantang. Distribusi bantuan pangan ke wilayah seperti ini kerap terkendala cuaca dan keterbatasan moda transportasi laut.
Rizal menegaskan target utama program ini bukan sekadar menyalurkan beras, melainkan memastikan kehadiran negara dirasakan langsung oleh warga. Ia menyebut kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi tantangan tersendiri dalam distribusi pangan.
"Bagi Bulog, tidak ada wilayah yang terlalu jauh untuk dilayani. Alor adalah bagian dari Indonesia, dan masyarakatnya memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian serta akses pangan. Kami akan terus memastikan pangan hadir sampai ke masyarakat," kata Rizal.
Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bulog menjadi kunci agar program berjalan efektif. Amran menekankan pentingnya kolaborasi ini supaya bantuan tiba di tangan penerima yang berhak, bukan hanya di gudang penyangga.
Penyaluran bantuan di Alor melibatkan Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Timur yang dipimpin Arrahim K. Kanam. Pendampingan langsung dari pemimpin wilayah diharapkan mempercepat penyelesaian kendala teknis di lapangan.
Kunjungan ini juga menjadi sarana menjaring aspirasi masyarakat, termasuk dari generasi muda Alor, terkait kondisi pangan di daerah. Masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk memperbaiki mekanisme penyaluran di periode berikutnya.
Dengan alokasi tiga bulan yang disalurkan sekaligus, pemerintah berupaya mengurangi frekuensi pengiriman dan menekan risiko keterlambatan akibat cuaca. Langkah ini sekaligus memastikan cadangan pangan rumah tangga penerima tetap aman hingga akhir September.