NUSA TENGGARA TIMUR — Menteri Kebudayaan Fadli Zon bertemu Menteri Olahraga, Seni, dan Kebudayaan Afrika Selatan Gayton McKenzie di sela forum BRICS, Jumat lalu. Keduanya membahas pembaruan nota kesepahaman kerja sama kebudayaan yang telah berusia hampir dua dekade, sekaligus merancang proyek rumah budaya sebagai simbol persahabatan kedua bangsa.
Fadli menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Afrika Selatan memiliki akar sejarah yang jauh lebih tua daripada hubungan diplomatik formal. Warisan Syekh Yusuf Al-Makassari, ulama asal Gowa yang diasingkan ke Cape Town pada abad ke-17, menjadi jembatan penghubung yang akan dirawat melalui kerja sama konkret.
“Kami melihat Sheikh Yusuf Indonesian Cultural House bukan sekadar sebuah bangunan kebudayaan. Ini dapat menjadi pusat diplomasi budaya, ruang pendidikan dan riset, tempat berkumpul masyarakat, sekaligus simbol persahabatan Indonesia dan Afrika Selatan,” ujar Fadli dalam keterangan resmi yang diterima redaksi.
Fasilitas di Cape Town itu dirancang untuk menampung kegiatan pendidikan, riset akademik, hingga program pelestarian warisan budaya. Selain itu, Indonesia mendorong penguatan hubungan dengan komunitas Cape Malay yang memiliki akar sejarah dari Nusantara, termasuk melalui dokumentasi sejarah lisan dan perlindungan warisan budaya takbenda.
Peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf pada 2026 akan dimanfaatkan untuk memperluas kolaborasi di bidang museum, arsip, industri kreatif, perfilman, hingga pertukaran seniman dan pemuda. Fadli menyebut momen ini sebagai momentum penting untuk memperkuat hubungan bilateral yang selama ini berjalan di level diplomatik.
“Peringatan 400 tahun kelahiran Sheikh Yusuf merupakan momentum penting untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Afrika Selatan,” kata Fadli.
Gayton McKenzie menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pendirian rumah budaya di Cape Town dan peningkatan pertukaran antara komunitas Cape Malay, seniman, serta pelaku budaya kedua negara. Dukungan ini menjadi sinyal positif bagi realisasi proyek yang tengah disiapkan pemerintah.
Kedua negara sepakat memperbarui Nota Kesepahaman Kerja Sama Kebudayaan yang ditandatangani pada 2008. Cakupan kerja sama baru akan diarahkan pada warisan budaya, museum, arsip, industri kreatif, perfilman, pendidikan kebudayaan, serta pertukaran seniman dan pemuda.
Fadli dalam pertemuan tersebut didampingi Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, Kuasa Usaha Ad Interim KBRI New Delhi Yudho Sasongko, serta Direktur Kerja Sama Kebudayaan Mardisontori.
Langkah ini menegaskan posisi Indonesia yang tidak hanya menjadikan BRICS sebagai forum ekonomi, tetapi juga panggung diplomasi budaya. Keberadaan rumah budaya di Cape Town kelak diharapkan menjadi basis permanen bagi interaksi masyarakat sipil kedua negara, melampaui sekadar seremonial antar-pemerintah.