KUPANG — Fasilitas baru PT Anugrah Pharmindo Lestari (APL) di Kota Kupang dirancang untuk menjamin kualitas produk obat-obatan tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen. Gudang ini tidak hanya dilengkapi ruang penyimpanan berpendingin (cold room), tetapi juga memiliki pengontrol suhu otomatis dan pembangkit listrik cadangan.
Presiden Direktur PT APL, Christophe Piganiol, menyatakan bahwa manajemen penyimpanan modern menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan keamanan mutu farmasi. Kehadiran sarana ini sekaligus memperkuat sistem logistik perusahaan yang telah beroperasi di wilayah Kupang sejak tahun 1996.
Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar POM (BBPOM) Kupang, Maria Meliana Waty Parera, mengapresiasi kedisiplinan PT APL dalam menerapkan prinsip Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Apresiasi ini disampaikan saat membacakan sambutan Kepala BBPOM Kupang pada peresmian fasilitas tersebut, Rabu (5/8).
BBPOM berharap gudang baru ini dapat menjadi acuan bagi penyalur farmasi lainnya di NTT. Penerapan standar distribusi yang ketat dinilai penting untuk melindungi masyarakat dari peredaran obat yang tidak memenuhi mutu.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menilai kehadiran fasilitas distribusi modern ini sebagai langkah konkret dalam membangun ekosistem pelayanan publik yang kokoh dan berkelanjutan. Menurutnya, pembangunan sektor kesehatan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah daerah.
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Dunia usaha, TNI-Polri, komunitas, lembaga keagamaan, dan seluruh masyarakat harus bergandengan tangan. Kalau ingin berjalan jauh, kita harus berjalan bersama,” tegas dr. Christian Widodo.
Dengan beroperasinya gudang baru ini, PT APL menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain utama distribusi produk kesehatan di kawasan timur Indonesia. Fasilitas ini dirancang untuk menjawab tantangan geografis NTT yang terdiri dari banyak pulau, sehingga distribusi obat ke daerah terpencil bisa lebih cepat dan aman.
Investasi pada infrastruktur berpendingin dan sistem manajemen gudang modern menjadi sinyal positif bagi industri farmasi di NTT. Hal ini juga membuka peluang peningkatan kerja sama antara sektor swasta dan pemerintah daerah dalam pelayanan kesehatan masyarakat.