KUPANG — Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Perencanaan Undana, Prof. Philiphi de Rozari, membantah keras informasi yang menyebut mahasiswinya mengalami pembatalan ujian skripsi sebanyak 12 kali. Ia menegaskan kabar tersebut tidak sesuai dengan fakta akademik yang sebenarnya terjadi di kampus.
"Kalau yang dimaksud adalah pembatalan ujian skripsi 12 kali itu tidak benar," kata Philiphi di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis.
Philiphi menjelaskan, berdasarkan penelusuran tim Undana, tahapan akademik Jessica baru sampai pada seminar proposal. Setelah melewati tahap tersebut, mahasiswa masih harus menjalani seminar hasil sebelum akhirnya berhak mengikuti ujian skripsi.
Menurut dia, selama proses penyusunan tugas akhir, memang terjadi penyesuaian jadwal untuk seminar proposal maupun seminar hasil. Namun, penyesuaian jadwal ini merupakan hal yang lazim dan berbeda makna dengan pembatalan ujian skripsi.
"Penyesuaian jadwal merupakan bagian dari koordinasi antara mahasiswa, dosen pembimbing, dosen penguji, serta administrasi di tingkat program studi maupun fakultas," ujarnya.
Terkait video yang viral dan memperlihatkan Jessica menangis hingga pingsan, pihak kampus telah melakukan penyelidikan internal. Hasilnya, video tersebut direkam oleh teman Jessica saat mahasiswi tersebut mengalami kelelahan, bukan karena gagal ujian.
"Jadi saat itu Jessica sedang mengalami kelelahan dan direkam oleh orang lain dan diunggah di media sosial," jelas Philiphi.
Video yang beredar luas itu memicu komentar negatif dari warganet, khususnya yang ditujukan kepada dosen pembimbing Jessica. Narasi yang berkembang di media sosial menyebut mahasiswi tersebut pingsan karena kembali gagal ujian skripsi untuk kali ke-12.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan proses hukum terhadap pembuat dan penyebar video, Philiphi menegaskan bahwa prioritas utama Undana saat ini adalah memulihkan kondisi kesehatan Jessica yang tengah dirawat di rumah sakit.
"Saat ini kami sedang fokus pada kesehatan mahasiswa kami," ucap Philiphi.
Pihak universitas belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai kelanjutan studi Jessica. Namun, pernyataan resmi ini diharapkan dapat meluruskan informasi yang keliru di publik sekaligus meredam spekulasi yang berkembang.