KUPANG — Upaya penanganan tumpahan minyak di perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang, terus dipercepat. Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Nusa Tenggara Timur mencatat sekitar lima hingga enam ton Marine Fuel Oil (MFO) telah dievakuasi dari lokasi bekas kebocoran kapal KM Kuala Emas.
Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, menegaskan kolaborasi dengan masyarakat masih menjadi kunci utama dalam proses pembersihan yang berlangsung hingga saat ini. "Pembersihan masih terus dilakukan, berkolaborasi juga dengan masyarakat," ujarnya di Kupang, Minggu.
Untuk mempercepat evakuasi, jumlah armada perahu pembersih ditambah dari dua menjadi empat unit. Sejumlah peralatan juga dikerahkan, mulai dari pemasangan oil boom, penggunaan oil absorbent pads, hingga penyemprotan oil dispersant untuk memecah lapisan minyak di permukaan air.
Minyak yang terperangkap di sekitar lokasi kejadian kemudian disedot dan dibawa ke tempat penampungan. "Kami bersama instansi terkait akan terus melakukan pengawasan dan pemantauan di lapangan. Penyisiran lanjutan dilakukan pada titik-titik pesisir yang berpotensi terdampak guna memastikan proses pembersihan berjalan efektif," kata Irwan.
Pembersihan tidak hanya dilakukan di tengah laut. Aksi gotong royong melibatkan warga digelar di sejumlah kawasan pesisir yang sempat terpapar tumpahan, meliputi Hansisi, Pelabuhan Ferry Semau, Pelabuhan Rakyat Semau, Hansisi Oesemuk, Lalendo, hingga Pulau Kambing.
Kehadiran warga dalam operasi ini dinilai krusial mengingat wilayah pesisir merupakan zona vital bagi aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Dampak pencemaran ini sebelumnya dilaporkan telah menyentuh sektor usaha warga. Camat Semau, Morifali Y.E Mesakh, menyebut tumpahan minyak diduga mempengaruhi usaha budidaya rumput laut milik masyarakat di Desa Huilelot.
Kawasan budidaya yang terdampak membentang di sepanjang pesisir Pantai Tahasa, Katabak, hingga Batuhopon dengan panjang sekitar 6 kilometer. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena rumput laut merupakan komoditas unggulan yang menjadi sumber penghidupan banyak keluarga di pesisir Semau.
Di luar upaya pembersihan, pihak kontraktor saat ini masih melanjutkan investigasi teknis untuk memastikan sumber kebocoran MFO. Ditpolairud Polda NTT bersama pemerintah daerah dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan di lapangan.
Penanganan akan terus dilakukan hingga kondisi perairan dinyatakan aman bagi masyarakat dan ekosistem laut.