NUSA TENGGARA TIMUR — Komitmen tersebut mengemuka di tengah upaya Indonesia mempercepat transisi energi. Pemerintah Indonesia sebelumnya, melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, telah mengajak perusahaan-perusahaan China untuk berinvestasi dalam proyek raksasa ini. Ajakan itu disampaikan langsung saat bertemu Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Shanghai, China, pertengahan Juli lalu. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas penguatan kerja sama di bidang ekonomi, perdagangan, investasi, hingga transisi energi.
Liu Zhenmin menegaskan bahwa pemerintah China secara aktif mendorong perusahaannya untuk bermitra dengan Indonesia. Menurutnya, kerja sama antarnegara berkembang atau global south merupakan pelengkap dalam tata kelola iklim global yang idealnya terjalin erat dengan negara maju. Namun, ia menyayangkan sejumlah negara besar justru memperlambat aksi iklim dan menarik diri dari perjanjian global, sehingga komitmen pendanaan dan transfer teknologi semakin sulit dipenuhi.
China, kata Liu, menjadikan proyek ini sebagai bagian dari rencana besarnya membangun sistem energi terbarukan tercepat dan termasif di dunia. Negara itu akan menggalakkan kerja sama internasional untuk pembangunan hijau dan rendah karbon. Hingga Juni 2026, China tercatat telah menandatangani 56 nota kesepahaman (MoU) dan kerja sama perubahan iklim dengan 43 negara berkembang, serta telah bekerja sama dalam proyek energi hijau dengan lebih dari 100 negara dan wilayah.
“Sebagai negara berkembang besar, China terus memberikan dukungan dan bantuan kepada negara-negara berkembang lainnya semaksimal mungkin,” ujar Liu dalam sambutannya.
Dalam pertemuan di Shanghai, Airlangga Hartarto secara khusus mengapresiasi keterlibatan investasi China dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata. Proyek tersebut dinilai sebagai bukti nyata besarnya potensi kerja sama Indonesia-China dalam mendukung transisi energi. “Proyek tersebut menunjukkan besarnya potensi kerja sama Indonesia-Cina dalam mendukung transisi energi,” ujar Airlangga kala itu.
Dukungan China ini menjadi angin segar bagi target ambisius Indonesia membangun PLTS berkapasitas 100 GW. Pasalnya, proyek tersebut membutuhkan investasi besar serta transfer teknologi yang masif. Dengan pengalaman China dalam pengembangan panel surya dan pembangkit listrik tenaga surya skala utilitas, kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat realisasi target bauran energi terbarukan nasional.
Liu menegaskan kesiapan China untuk bekerja sama dengan Indonesia dan pihak lain guna memberikan kontribusi lebih besar dalam mencapai netralitas karbon global. “Cina siap bekerja sama dengan Indonesia dan pihak-pihak lain untuk memberikan kontribusi yang lebih besar dalam mencapai netralitas karbon global,” pungkasnya. Pernyataan ini memperkuat posisi China sebagai mitra strategis Indonesia dalam transisi energi di kawasan. Meski begitu, realisasi proyek 100 GW ini masih menunggu detail skema pendanaan serta kepastian regulasi dari pemerintah Indonesia. Yang jelas, sinyal dari China telah terbuka lebar. Kini, bola ada di tangan para pemangku kepentingan di dalam negeri untuk menindaklanjuti peluang ini.