Warga Kampung Bora Blupur di Sikka Angkat Bicara, Jalan Rusak Parah Bikin Ibu Hamil dan Pasien Harus Digotong 5 Kilometer

Penulis: Endra Sanjaya  •  Jumat, 31 Juli 2026 | 22:01:31 WIB
Warga Kampung Bora Blupur melintasi jalan tanah berlumpur yang menjadi satu-satunya akses menuju jalan raya di Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka.

SIKKA — Sepanjang mata memandang di Kampung Bora Blupur, yang terlihat hanyalah hamparan tanah merah yang berlubang dan kubangan lumpur. Suara kendaraan bermotor nyaris tak pernah terdengar di kampung yang terisolasi ini, jauh dari hingar bingar Kota Maumere.

Akibatnya, mobilitas warga sangat terbatas. Komoditi kebun seperti kopra dan keladi kesulitan dibawa ke pasar, sementara akses terhadap layanan kesehatan darurat menjadi momok menakutkan.

"Beberapa hari lalu, seorang warga yang mengalami patah tulang kaki terpaksa diangkut menggunakan kain sarung oleh warga menuju jalan raya," tutur Trisila, salah seorang warga Kampung Bora Blupur, Senin (20/7/2026).

Tarif Angkutan Membengkak, Warga Pikul Sendiri Barang Dagangan

Kondisi ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga ekonomi. Trisila menyebut, tarif angkutan kendaraan roda dua dikenakan biaya Rp25 ribu, sedangkan roda empat jenis pikap Rp20 ribu. Sementara itu, ongkos angkut hasil bumi seperti kopra mencapai Rp300 ribu, dan keladi dihitung Rp5.000 per batang.

"Kalau musim hujan, warga terpaksa pikul barang dagangan sejauh lima kilometer menuju jalan raya. Kalau ada warga yang sakit parah atau ibu hamil yang mau melahirkan, biasanya mereka jalan kaki ke jalan raya," tambah Trisila.

Anak SMP dan Mahasiswa Rela Berlumur Lumpur Demi Sekolah

Derasnya curah hujan mengubah jalanan tanah menjadi lumpur yang mustahil dilewati kendaraan roda empat. Para pelajar SMP dan mahasiswa Universitas Nusa Nipa Maumere menjadi korban paling merasakan dampaknya.

"SD di kampung ada, tetapi SMP harus ke SMP Negeri Kewapante di Kecamatan Kangae. Dengan kondisi jalan yang rusak, mereka tetap berusaha ke sekolah. Kalau hujan, lumpur membuat mereka terpaksa berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju jalan raya," ujar Trisila.

Janji Manis vs Realisasi: Warga Sudah Lelah Menunggu Aspal

Trisila menegaskan, warga sudah berkali-kali menyampaikan aspirasi ini, mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Bahkan, sejumlah anggota DPRD dan pegawai Kabupaten Sikka pernah datang untuk mengukur jalan, namun hingga kini tak ada realisasi perbaikan yang berarti.

"Kami tidak butuh lagi janji manis saat kampanye politik melainkan aksi nyata pengaspalan jalan yang layak," desaknya.

Penjabat Desa Bura Bekor, Antonius Moa, membenarkan bahwa akses jalan tersebut melintasi beberapa desa. Menurutnya, perbaikan infrastruktur ini akan memperlancar mobilisasi barang dan jasa, sekaligus meningkatkan pelayanan pendidikan di SD Kelas Pararel SDI Klotong dan layanan kesehatan di Posyandu Paubasor.

Pihak Kecamatan Akui Anggaran Terbatas, Usulkan Gotong Royong

Camat Bola, Charolus Luanga Saka, yang baru tiga bulan menjabat, mengakui usulan perencanaan perbaikan jalan sebenarnya sudah diajukan ke tingkat kabupaten. Namun, pemerintah tengah mengalami efisiensi dan rasionalisasi anggaran.

"Jika tidak diakomodir melalui APBD, jangka pendeknya konsep pembangunan jalan kabupaten harus berbasis swadaya dan gotong royong bersama stakeholder," kata Charolus.

Pihak kecamatan berjanji akan memfasilitasi musyawarah dari tingkat dusun hingga desa agar usulan warga tetap terkawal, sembari menunggu kepastian alokasi anggaran dari Pemerintah Kabupaten Sikka.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: ekorantt.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top