Ahli Geologi Beri Penjelasan di Tengah Kekhawatiran Warga Flores dan Lembata soal Dampak Proyek Geotermal

Penulis: Endra Sanjaya  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 19:38:31 WIB
Ahli geologi memberikan penjelasan dalam forum di IFTK Ledalero, Maumere, terkait kekhawatiran warga Flores dan Lembata terhadap dampak proyek geotermal.

MAUMERE — Kekhawatiran warga terhadap proyek geotermal di Flores dan Lembata mendapat tanggapan langsung dari para ahli geologi dalam forum yang digelar di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, 23 Juli lalu. Dalam forum tersebut, sejumlah imam dan perwakilan JPIC menyampaikan pertanyaan serta pengalaman warga terkait dampak lingkungan dan keselamatan.

Pater Laurens Woda dari JPIC SVD Ende mempertanyakan ketentuan AMDAL dalam proyek geotermal, terutama soal eksplorasi yang disebut tidak membutuhkan AMDAL sementara eksploitasi baru memerlukannya. Romo Yakobus Dionisius Migo, Sekretaris Keuskupan Maumere, juga menyoroti kondisi Flores yang menurutnya labil dan rentan terhadap gempa bumi serta erupsi gunung api.

Daya Dukung Geologi yang Terbatas

Pakar Geologi Universitas Gadjah Mada, Pri Utami, menegaskan bahwa pemahaman terhadap ruang hidup menjadi kunci dalam pengelolaan energi panas bumi. Menurutnya, daya dukung alam dan geologi sangat terbatas jika dibandingkan dengan kemauan manusia yang tidak terbatas.

“Daya dukung alam, daya dukung geologi itu sangat terbatas, sementara kemauan manusia tidak terbatas,” ujar Pri dalam forum tersebut. Ia menambahkan bahwa pendidikan geologi tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab para ahli, melainkan perlu dipahami masyarakat luas agar tidak panik saat terjadi bencana.

Geotermal dan Sistem Hidrotermal Alami

Pri menjelaskan bahwa panas bumi tidak selalu berada di wilayah gunung api aktif. Di Indonesia, panas bumi tampak melalui fumarol, mata air panas, dan kolam lumpur. Namun, pengembangan panas bumi tidak dilakukan pada gunung api yang masih aktif secara historis.

“Siapa yang bilang kita tidak ada energi? Ada,” kata Pri. Sistem panas bumi vulkanik hidrotermal, menurutnya, biasanya berada pada gunung api yang tidak aktif dalam catatan manusia namun masih memiliki manifestasi panas bumi. Ia menyebut Sokoria sebagai salah satu lapangan yang menggunakan sistem biner.

Kekhawatiran Gempa dan Kasus Pohang

Isu gempa turut mengemuka setelah peserta forum merujuk pada kasus Pohang, Korea Selatan, yang pernah dikaitkan dengan pengembangan panas bumi. Pri Utami menegaskan kondisi geologi Pohang berbeda dengan lapangan panas bumi di Indonesia.

“Di Pohang itu mereka tidak punya sistem vulkanik hidrotermal yang secara nature punya air panas atau uap panas, tetapi mereka akan membuat suatu sistem panas bumi buatan,” jelasnya. Menurut Pri, Indonesia justru memiliki banyak lapangan dengan batu panas dan air panas alami.

Akademisi Fakultas Sains dan Teknologi Undana, Noni Banunaek, turut memberikan perspektif mengenai keterbatasan daya dukung alam dan pentingnya pemahaman publik tentang ruang hidup di wilayah Flores dan Lembata. Forum ini menjadi ruang dialog antara akademisi, pemuka agama, dan masyarakat yang selama ini resah terhadap dampak proyek geotermal di daerah mereka.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: floresa.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top