Tiga Menteri Kunjungi PSN Tambak Udang di Sumba Timur, Warga Desak Kepastian Kompensasi Lahan Tertunda

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 16:55:01 WIB
Tiga menteri mengunjungi kawasan PSN Tambak Udang Terintegrasi di Sumba Timur untuk meninjau perkembangan proyek.

SUMBA TIMUR — Rencana kedatangan tiga menteri ke kawasan PSN Tambak Udang Terintegrasi di Kecamatan Pandawai disambut antusias, namun juga dibarengi desakan warga yang masih menanti kejelasan soal kompensasi lahan. Kepala Desa Palakahembi, Arif Ndilu Maramba Jawa, mengapresiasi langkah pemerintah pusat yang dinilai serius mengawal proyek di wilayahnya.

“Saya mengapresiasi kunjungan ini. Ini menandakan bahwa pemerintah benar-benar serius terhadap pembangunan tambak udang terintegrasi di daerah kami,” ujar Arif saat dikonfirmasi, Kamis (30/7/2026) pagi.

Harapan Warga di Balik Kunjungan Tiga Menteri

Di balik apresiasi tersebut, Arif menekankan bahwa persoalan pembayaran kompensasi lahan yang sempat tertunda menjadi isu utama yang harus segera mendapat kepastian. Ia berharap kunjungan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto bisa menjadi titik terang.

“Masyarakat masih berharap persoalan pembayaran kompensasi yang sempat tertunda dapat segera memperoleh kepastian penyelesaian melalui koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pihak yang terlibat,” kata Arif.

Agenda Kunjungan Dipusatkan di Dua Titik Lokasi PSN

Kunjungan kerja tersebut akan dipusatkan di kawasan PSN Tambak Udang Terintegrasi yang berlokasi di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai. Proyek ini merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang digadang-gadang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah timur Indonesia.

Kehadiran tiga menteri sekaligus dalam satu agenda menunjukkan perhatian serius pemerintah terhadap kelanjutan proyek tambak udang di Sumba Timur. Namun, warga berharap agar perhatian itu tidak hanya berhenti pada seremoni, melainkan membuahkan solusi konkret atas persoalan kompensasi lahan yang sudah lama mengganjal.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: waingapu.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top