KUPANG — Sekretaris DPW PSI NTT Junaidin Mahasan menilai, perbedaan pandangan politik tak seharusnya menghapus fakta sejarah pembangunan yang telah berjalan. Menurutnya, masyarakat NTT masih mengingat berbagai program infrastruktur dan penguatan konektivitas antarpulau yang dijalankan pada masa pemerintahan Joko Widodo.
"Setiap kali nama beliau kembali disebut, ingatan masyarakat NTT tentang legacy dan jejak pembangunan di NTT ikut muncul ke permukaan. Di era Bapak Jokowi, paradigma pembangunan bergeser dari Jawa-sentris menjadi Indonesia-sentris," kata Junaidin dalam keterangannya di Kupang, Kamis.
Ia menjelaskan, perubahan paradigma tersebut tak sekadar slogan. PSI NTT menilai konsep Indonesia-sentris diwujudkan melalui pembangunan jalan, pelabuhan, pengembangan kawasan pariwisata, serta program Tol Laut.
"Laut yang dulu menjadi pemisah, perlahan diubah menjadi jalan. Jarak yang dulu menjadi hambatan, mulai diubah menjadi konektivitas," ujarnya.
Junaidin menambahkan, Tol Laut menjadi simbol perubahan kebijakan pemerintah dalam memperkuat konektivitas wilayah kepulauan, termasuk NTT. Konsep ini, kata dia, menunjukkan kehadiran negara hingga wilayah perbatasan dan daerah yang selama ini menghadapi keterisolasian.
Menurut Junaidin, kunjungan Joko Widodo ke NTT bukan hanya agenda politik. Ia menilai momen ini menjadi pengingat bagi masyarakat akan berbagai kebijakan pembangunan pemerintah pusat di daerah tersebut.
"Silakan berbeda pilihan politik, tetapi jangan menghapus fakta sejarah. Bagi banyak masyarakat NTT, Pak Jokowi telah meninggalkan jejak. Jejak itu masih bisa dilihat, masih bisa dirasakan, dan masih menjadi bagian dari cerita pembangunan NTT," pungkasnya.
PSI NTT menegaskan tidak bermaksud mengkultuskan tokoh tertentu, melainkan mengajak publik melihat rekam jejak pembangunan secara objektif dan proporsional.