Rupiah Tembus Rp18.083 per Dolar AS, Sinyal The Fed Tahan Suku Bunga dan Transisi BI Jadi Beban Ganda

Penulis: Dimas Prasetyo  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 09:07:23 WIB
Rupiah melemah ke level Rp18.083 per dolar AS di tengah sinyal The Fed menahan suku bunga dan transisi kepemimpinan Bank Indonesia.

NUSA TENGGARA TIMUR — Pelaku pasar uang kini bersiap menghadapi dua tekanan sekaligus. Dari eksternal, probabilitas The Fed menahan suku bunga pada pertemuan Rabu (29/7) mencapai 62 persen berdasarkan data CME FedWatch. Skenario ini memperkuat dolar AS dan membuat aliran modal global semakin selektif terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Dari dalam negeri, pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI menambah lapisan risiko baru di tengah tekanan nilai tukar yang sudah tinggi.

Komentar Hawkish Kevin Warsh dan Risiko Timur Tengah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa pernyataan Ketua Fed Kevin Warsh yang cenderung hawkish sejak keputusan suku bunga Juni lalu menjadi sinyal utama. “Warsh telah menegaskan komitmen FOMC untuk menjaga stabilitas harga,” ujarnya di Jakarta. Lebih lanjut, Warsh meluncurkan tinjauan menyeluruh operasional Fed dengan membentuk lima gugus tugas yang mencakup komunikasi dan kerangka kerja pencapaian target inflasi.

Faktor geopolitik juga ikut bermain. Ketegangan AS-Iran terkait kendali Selat Hormuz mendorong harga minyak melonjak sekitar 20 persen dalam dua pekan terakhir. Situasi ini menambah tekanan inflasi global dan memperkuat argumen The Fed untuk menahan suku bunga lebih lama.

Transisi Gubernur BI: Dari Perry Warjiyo ke Destry Damayanti

Di dalam negeri, pengunduran diri Perry Warjiyo sempat direspons negatif oleh pasar karena meningkatkan ketidakpastian di tengah depresiasi rupiah dan derasnya arus keluar dana asing. Namun, penunjukan Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas Gubernur BI memberikan sedikit optimisme. “Destry memberi optimisme pasar akan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, dan mempertahankan stabilitas sistem keuangan,” kata Ibrahim.

Pasar kini menanti proses penunjukan Gubernur BI definitif. Kelancaran proses ini dinilai krusial untuk menjaga kredibilitas dan independensi bank sentral dalam menetapkan kebijakan moneter ke depan.

S&P: Pengunduran diri Perry Tak Langsung Berdampak ke Peringkat RI

Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings ikut angkat bicara. Sovereign Analyst Rain Yin menyatakan kepada Bloomberg bahwa pengunduran diri Perry Warjiyo tidak berdampak langsung pada sovereign rating Indonesia. Meski demikian, Yin mengakui bahwa peristiwa ini dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terkait prospek kebijakan negara.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI pada hari yang sama juga tercatat melemah ke level Rp18.088 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.995. Angka ini mengonfirmasi tekanan yang dihadapi rupiah dalam waktu dekat masih akan berlanjut, terutama jika The Fed benar-benar mempertahankan suku bunga dan proses transisi kepemimpinan BI belum tuntas.

Reporter: Dimas Prasetyo
Sumber: koran-jakarta.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top