NUSA TENGGARA TIMUR — Setelah lima tahun tanpa desain ulang besar, Apple dikabarkan akan merombak total lini laptop premiumnya melalui seri "MacBook Ultra". Menurut laporan dari Bloomberg dan analis Ming-Chi Kuo, perangkat ini dijadwalkan memasuki produksi massal pada akhir 2026 dan mulai dijual antara kuartal IV 2026 hingga awal 2027. Namun, kelangkaan chip global kemungkinan menggeser jadwal ke awal 2027.
MacBook Ultra menjadi Mac pertama yang mendukung input sentuh langsung di layar. Namun, Apple tidak menjadikannya perangkat touch-first seperti iPad. Mark Gurman dari Bloomberg mendeskripsikannya sebagai "touch-friendly, not touch-first" — pengguna bisa beralih antara sentuhan, trackpad, dan keyboard secara mulus. Layar OLED hybrid memberikan warna lebih kaya, kontras tinggi dengan hitam sejati, serta efisiensi daya lebih baik karena piksel bisa mati total.
Untuk mendukung interaksi sentuh, macOS versi baru (dikodekan "Golden Gate") sudah menyertakan indikasi seperti penambahan gestur pinch-to-zoom, pull-to-refresh di aplikasi sistem, dan menu bar yang lebih besar saat disentuh. Dynamic Island di sekitar kamera akan memperluas fungsinya untuk menampilkan notifikasi Siri, baterai rendah, atau koneksi AirPods.
Bentuk clamshell tetap dipertahankan, tapi notch lenyap digantikan lubang kamera kecil. Engsel diperkuat agar layar tidak goyang saat disentuh — masalah yang sering dikeluhkan pada MacBook Pro saat ini. Ukuran bodi dilaporkan lebih ramping, namun Apple tidak mengorbankan port yang sempat dihilangkan di model 2016.
Apple belum mengumumkan harga resmi, tapi lini MacBook Pro saat ini mulai dari $1.999 (sekitar Rp33 juta) untuk model 14 inci, dan $2.999 (sekitar Rp49,5 juta) untuk 16 inci. MacBook Ultra diperkirakan duduk di atas semua varian tersebut. Jika mengikuti pola harga Apple di Indonesia, tambahan bea masuk dan pajak bisa membuat banderolnya melampaui Rp50 juta. Peluncuran global dijadwalkan awal 2027, dengan ketersediaan di Tanah Air biasanya menyusul beberapa pekan atau bulan kemudian.
Ini adalah lompatan terbesar sejak MacBook Pro M1 pada 2021. Perbedaan paling signifikan: layar OLED vs mini-LED, dukungan sentuh, desain tanpa notch, serta opsi konektivitas seluler. Namun, kelemahan yang perlu dicatat: generasi pertama MacBook Ultra masih menggunakan chip M5 Pro/Max yang sudah beredar, sementara generasi kedua dengan M7 Pro/Max yang jauh lebih bertenaga (dengan akselerator AI dan memori bandwidth lebih besar) diprediksi hanya berselang kurang dari setahun. Ini bisa membuat pembeli awal berpikir dua kali.
MacBook Ultra ditujukan untuk profesional kreatif, pengembang, dan pengguna yang membutuhkan performa maksimal dengan layar terbaik dan fleksibilitas input. Bagi yang sudah memiliki MacBook Pro M3 atau M4, mungkin lebih bijak menunggu generasi kedua dengan chip M7. Namun, jika Anda menginginkan laptop Apple paling mutakhir dengan layar sentuh dan OLED — dan siap merogoh kocek lebih — lini Ultra ini layak dinanti.