FLORES TIMUR — Bentrokan antarwarga dua desa di Pulau Adonara kembali memakan korban jiwa. Kepala Puskesmas Ile Boleng, Stefanus Ola Bura, mengonfirmasi satu pasien berusia 21 tahun meninggal dunia akibat luka senjata tajam dalam insiden Sabtu (18/7/2026) pagi.
"Ada empat pasien. Satu meninggal, tiga dirawat," kata Stefanus kepada detikBali. Seluruh korban merupakan warga Desa Waiburak. Tiga pasien yang selamat terdiri dari satu laki-laki dan dua perempuan.
Belum diketahui apakah ada korban jiwa atau luka dari pihak Desa Narasaosina. Proses evakuasi dan pendataan masih berlangsung hingga siang hari.
Pertikaian antara Desa Narasaosina dan Waiburak bukan kali pertama terjadi. Sumber konflik dipicu oleh klaim kepemilikan tanah adat yang tumpang tindih dan belum rampung diselesaikan secara hukum maupun adat.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur sebelumnya sudah memfasilitasi mediasi. Namun, upaya damai itu gagal meredam ketegangan di tingkat akar rumput.
Kekerasan berskala besar terakhir tercatat pada 9 Mei lalu. Dalam insiden tersebut, belasan rumah warga ludes dibakar. Tujuh orang terkena tembakan hingga harus dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan intensif.
Rentetan kekerasan ini menunjukkan eskalasi konflik yang kian sulit dikendalikan aparat keamanan setempat. Polisi dan TNI di Flores Timur belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah pengamanan pasca-bentrokan pagi ini.
Puskesmas Ile Boleng masih merawat tiga pasien luka-luka. Tim medis siaga untuk kemungkinan bertambahnya korban. Pihak kecamatan dan Pemkab Flores Timur diharapkan segera mengambil langkah darurat untuk mencegah bentrokan susulan.
Konflik tanah adat di Adonara merupakan persoalan struktural yang kerap melibatkan garis keturunan dan batas wilayah warisan. Tanpa penyelesaian batas definitif yang diterima kedua pihak, potensi ledakan kekerasan tetap tinggi.