KUPANG — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena menegaskan kesiapan daerahnya menjadi tuan rumah Pekan Special Olympics Nasional (Pesonas) II Tahun 2026. Ajang olahraga empat tahunan bagi atlet penyandang disabilitas intelektual ini dijadwalkan berlangsung di Kota Kupang pada 13-18 Oktober 2026.
“Menjadi tuan rumah bukan hanya berarti menyiapkan arena pertandingan, penginapan, atau seremoni pembukaan. Menjadi tuan rumah berarti menyiapkan hati, menyiapkan masyarakat yang menerima dengan tulus,” kata Melki dalam keterangan yang diterima di Kupang, Kamis.
Pesonas II 2026 akan mempertandingkan tujuh cabang olahraga. Selain 908 atlet, ajang ini juga akan melibatkan 386 pelatih dari seluruh Indonesia.
Melki menilai kepercayaan menjadikan NTT sebagai tuan rumah merupakan kehormatan sekaligus amanah yang harus dijalankan penuh tanggung jawab. Ia menyebut ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan simbol komitmen Indonesia membangun masyarakat yang semakin inklusif.
Gubernur menekankan bahwa penyelenggaraan Pesonas II menjadi momentum bagi NTT untuk menunjukkan komitmennya memberikan kesempatan setara bagi seluruh masyarakat. “Kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan ruang yang setara bagi setiap warga untuk hidup, berkarya, dan berprestasi,” ujarnya.
Menurut dia, ajang ini menjadi momentum bagi atlet-atlet disabilitas NTT untuk menunjukkan kemampuan dan mencapai mimpi mereka. “Mimpi tidak pernah mengenal disabilitas. Yang sering membatasi mimpi justru adalah kurangnya kesempatan, kurangnya dukungan, dan kurangnya keberanian kita sebagai masyarakat untuk membuka jalan. Malam ini kita memilih menjadi bagian dari jalan itu,” ujar Melki.
Melki menambahkan, olahraga tidak hanya melahirkan prestasi, tetapi juga menanamkan nilai keberanian, disiplin, persahabatan, kepercayaan diri, serta penghormatan terhadap martabat manusia. “Setiap atlet yang kita dukung malam ini sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu kepada kita. Mereka mengajarkan bahwa kemenangan bukan hanya tentang siapa yang mencapai garis akhir paling cepat, melainkan tentang keberanian untuk terus berdiri setiap kali kehidupan menguji kita,” pungkasnya.