KUPANG — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menggeser arah pembangunan ekonomi dari sekadar pemberdayaan menjadi peningkatan produktivitas masyarakat secara terintegrasi. Langkah ini diambil untuk memangkas ketergantungan pasokan barang dari luar daerah yang memicu defisit perdagangan hingga puluhan triliun rupiah.
Gubernur NTT Melki Laka Lena mengungkapkan bahwa rendahnya produktivitas menjadi akar persoalan ekonomi di wilayahnya. Kondisi ini membuat NTT terus terjebak dalam pola pengiriman bahan mentah ke luar daerah tanpa memberikan nilai tambah signifikan bagi pendapatan warga lokal.
“Kita harus mulai menuju pemberdayaan dan peningkatan produktivitas. Kita juga harus berhenti menjual bahan mentah saja dan mulai menghasilkan produk bernilai tambah,” kata Melki Laka Lena saat menjadi pembicara kunci Seminar Nasional di Universitas Widya Mandira Kupang, Jumat lalu.
Data pemerintah menunjukkan defisit perdagangan NTT saat ini menyentuh angka Rp51 triliun. Melki menilai angka tersebut merupakan alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk segera memperkuat ekosistem ekonomi lokal, terutama pada sektor-sektor strategis yang menjadi kekuatan daerah.
Pemprov NTT kini memfokuskan intervensi pada sektor pertanian, UMKM, ekonomi kreatif, hingga kewirausahaan sosial. Sektor pertanian, misalnya, didorong menggunakan teknologi modern agar hasil panen tidak lagi bergantung pada metode konvensional yang produktivitasnya terbatas.
Pendekatan ekonomi restoratif berbasis desa menjadi salah satu skema utama. Melki menginginkan adanya ekosistem yang menghubungkan proses produksi di tingkat desa, pengolahan, hingga kepastian akses pasar dan pembiayaan bagi para pelaku usaha kecil.
Selain sektor hulu, pemerintah daerah juga menyasar sektor pendidikan melalui program "One School One Product". Kebijakan ini mewajibkan setiap SMA dan SMK menghasilkan karya nyata, mulai dari produk kuliner, kriya, hingga teknologi tepat guna yang memiliki nilai jual.
Seluruh produk hasil karya siswa tersebut nantinya dipasarkan melalui platform NTT Mart. Upaya ini diharapkan mampu mencetak generasi muda yang memiliki mentalitas produsen dan wirausaha sejak dini guna memperkuat struktur ekonomi daerah di masa depan.
“Yang dibutuhkan bukan sekadar program, tetapi ekosistem ekonomi yang terintegrasi dari desa ke pasar,” ujar Gubernur Melki menegaskan urgensi kolaborasi lintas sektor.
Pembangunan NTT ke depan akan berpijak pada tujuh pilar utama, yakni ekonomi berkelanjutan, tata kelola pemerintahan, infrastruktur fisik dan digital, kesehatan, pendidikan, reformasi birokrasi, serta kolaborasi multipihak. Melki menyebut kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha adalah kunci percepatan.
Gubernur juga menantang kalangan mahasiswa dan intelektual di Kupang untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam perubahan ekonomi ini. Inovasi dari perguruan tinggi diharapkan mampu menjawab tantangan teknis yang dihadapi petani dan pelaku UMKM di lapangan.
“Saya mengajak kita semua untuk tidak hanya berpikir ‘saya ada’, tetapi ‘saya berproduksi maka saya ada’,” ucap Melki menutup paparannya.