NUSA TENGGARA TIMUR — PT PP Presisi Tbk (PPRE) dan PT PP Properti Tbk (PPRO) menjadi sumber utama tekanan di laporan keuangan grup konstruksi pelat merah tersebut. Padahal, induk usaha, PTPP, justru berhasil membukukan kenaikan laba bersih hingga Rp 193,46 miliar pada periode yang sama.
PPRE, perusahaan jasa konstruksi dan alat berat, mencatat rugi bersih Rp 162,79 miliar. Angka ini berbalik dari laba Rp 4,62 miliar pada semester I 2025. Ironisnya, pendapatan PPRE justru naik 35,36 persen menjadi Rp 2,22 triliun.
Kenaikan pendapatan itu tidak sebanding dengan lonjakan beban. Beban pokok pendapatan melesat menjadi Rp 1,99 triliun, sementara kerugian penurunan nilai aset melonjak drastis dari Rp 3,12 miliar menjadi Rp 57,94 miliar. Selain itu, PPRE juga mencatat bagian rugi dari ventura bersama sebesar Rp 2,71 miliar, terutama dari kerja sama operasi proyek jalan nasional di wilayah perbatasan Sigli, Aceh, yang merugi Rp 3,45 miliar.
Kondisi lebih parah dialami PPRO. Emiten properti ini membukukan rugi bersih Rp 201,71 miliar, berbalik dari laba Rp 47,18 miliar. Pendapatan bersih PPRO memang naik tipis menjadi Rp 171,18 miliar, tetapi beban lainnya melonjak hingga Rp 106,22 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, pos beban lainnya justru mencatatkan keuntungan sebesar Rp 176,37 miliar.
Di tengah kinerja merah anak usaha, PT PP Tbk selaku induk justru mencetak pertumbuhan laba. Laba bersih PTPP melonjak 196 persen menjadi Rp 193,46 miliar, meskipun pendapatan turun dari Rp 6,7 triliun menjadi Rp 5,9 triliun.
Kunci utama kenaikan laba induk adalah efisiensi biaya. Beban pokok pendapatan berhasil ditekan menjadi Rp 5,19 triliun, dan beban usaha dipangkas menjadi Rp 368,85 miliar. Lonjakan pendapatan lain-lain yang mencapai Rp 877,27 miliar juga menjadi penyelamat laba bersih perseroan.
Meski begitu, beban keuangan PTPP justru meningkat menjadi Rp 1,04 triliun, naik dari Rp 807,26 miliar. Hal ini mengindikasikan bahwa beban bunga utang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Kinerja keuangan yang kontras ini terjadi di saat pemerintah melalui Danantara mendorong konsolidasi BUMN Karya. Sebelum merger dilakukan, Danantara berkomitmen menyehatkan kondisi keuangan entitas peserta peleburan agar tidak terbebani utang lama.
Dengan dua anak usaha yang masih merugi, PTPP dipastikan harus bekerja ekstra dalam proses restrukturisasi internal. Total pendapatan diterima dimuka grup yang mencapai Rp 173,81 miliar per 30 Juni 2026—naik dari akhir 2025—setidaknya memberikan sedikit ruang likuiditas di tengah tekanan keuangan yang masih membayangi.